Review Artikel Kemajemukan Amerika : Dari Monokulturalisme Ke Multikulturalisme, “Parsudi Suparlan”

Kemerdekaan Amerika Serikat pada tahun 1776 telah mengumandangkan janji kebebasan terhadap setiap warga negaranya dan seperti yang telah dikatakan dalam deklarasi kemerdekaan Amerika, bahwa semua orang telah diciptakan sederajat. Namun arti sebuah kebebasan dan persamaan derajat dalam masyarakat Amerika masih belum nampak dalam kehidupan sehari-hari. Sementara kemerdekaan telah didapatkan oleh orang kulit putih yang lebih dominan di masyarakat Amerika, di lain pihak para budak maupun para warga minoritas belum memiliki kemerdekaan dalam diri mereka karena masih ada belenggu dan pembatasan terhadap budaya masyarakat Amerika yang didominasi oleh orang kulit putih.

Masyarakat Amerika didominasi oleh orang Eropa kulit putih yang sebagian besar berasal dari Inggris, Jerman, dan Perancis. Orang-orang asal Inggris merupakan salah satu masyarakat yang sangat aktif memperjuangkan kemerdekaan Amerika dari negeri induk. Mereka kemudian mengembangkan sebuah dominasi dalam semboyan yang disebut WASP (White Anglo Saxon Protestan), yaitu sebuah nilai-nilai kebudayaan yang mengacu pada kebudayaan Inggris yang protestan. Orang-orang yang tidak memiliki salah satu kriteria dari WASP tersebut tidak dianggap sebagai orang Amerika yang sederajat dengan mayoritas (orang kulit putih). Dalam praktiknya, WASP sangat mempengaruhi kehidupan berpolitik masyarakat Amerika. Sejumlah pemimpin politik di negara Amerika adalah orang WASP, sedikit dari mereka (orang yang tidak termasuk dalam WASP) yang dapat mencapai puncak kepemimpinan bahkan beberapa di antaranya hanya sanggup memerintah selama sementara waktu.

Dalam hal ini kita melihat bahwa adanya kesenjangan antara masyarakat yang mayoritas dengan masyarakat minoritas. Kesenjangan ini tercipta karena adanya batas-batas sosial dan budaya antara masyarakat mayoritas (orang-orang yang tergolong WASP) dengan golongan minoritas (orang-orang yang tidak memiliki ciri-ciri WASP). Perbedaan warna kulit, ras, atau bahasa telah menyebabkan berbagai diskriminasi terjadi terhadap golongan minoritas. Kehidupan mereka menjadi lebih sengsara akibat tidak mampu mengadopsi kebudayaan WASP dengan sempurna. Masalah ini muncul ketika masuknya imigran-imigran yang berasal dari Asia, Amerika Latin, Afrika, maupun orang kulit putih yang bukan pemeluk agama Kristen Protestan. Sebagian besar dari mereka tidak dapat berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Oleh sebab itu banyak dari para imigran yang tergolong sebagai golongan minoritas sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan serta tidak mendapatkan hak yang layak bagi diri mereka. Penjelasan di atas telah memperlihatkan sebuah corak kebudayaan yang disebut monokulturalisme yakni hanya ada sebuah kebudayaan yang ada di Amerika untuk orang Amerika (orang WASP) dalam masyarakat yang dominan.

Namun pada periode tahun 1960-an perjuangan atas kesetaraan antara masyarakat dominan dengan minoritas serta penghapusan diskriminasi terhadap orang kuliat hitam dilaksanakan dalam kebijakan oleh Presiden Kennedy. Kebudayaan WASP mulai terkikis secara perlahan dan munculnya multikulturalisme sebagai ide yang berisikan upaya untuk memahami hakekat dan kompleksitas kebudayaan Amerika dengan cara menghayati keanekaragaman kebudayaan dan saling keterkaitannya satu dengan yang lainnya menjadi unsur-unsur terwujudnya budaya Amerika. Dalam multikulturalisme tidak ada penggolongan sosial berdasarkan ras tetapi yang ada hanya sebuah masyarakat Amerika yang berkebudayaan majemuk.

Multikulturalisme apabila dilihat dari perspektif demokrasi merupakan salah satu ide yang berjuang untuk menegakkan demokrasi serta meliputi upaya dalam hal pengakuan atas hak-hak budaya komuniti. Oleh karena itu, dalam multikulturalisme terdapat pertentangan yang bersifat tidak menghancurkan satu sama lain. Pemberlakuan hukum-hukum sebagai aturan main dalam negara demokrasi seperti Amerika adalah hal yang tepat.

Perihal kertapati89
saya baru saja memulai usaha untuk menulis dan saya rasa itu hal yang bagus

2 Responses to Review Artikel Kemajemukan Amerika : Dari Monokulturalisme Ke Multikulturalisme, “Parsudi Suparlan”

  1. jendelakatatiti mengatakan:

    Indonesia juga multikultur, sebaiknya menghargai perbedaan dan tetap bersemboyan Bhinneka Tunggal Ikha, kita pun bisa maju dan demokratis seperti amerika asal jangan meninggalkan akar budaya kita sendiri. artikel yang menarik, dari jendelakatatiti.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: