Imlek Ala Batavia Tempo Dulu

pecinan-ayan

Lain dulu lain sekarang. Begitu kata orang. Kota Jakarta yang dulunya bernama Batavia ini rupanya menyimpan sejarah menarik mengenai Imlek pada periode 1950-an. Orang Betawi ternyata ikut serta dalam perayaan Imlek, tak seperti sekarang. Begini cerita budayawan Betawi, Ridwan Saidi, kepada Tempo.

Pada kalender Cina terdapat perayaan penting seperti Imlek di hari pertama, Cap Gomeh di hari ke-15, Ceng Beng pada hari ke-60, lalu Peh Cun pada hari ke-100, dan Cit Gwee di bulan ke 7. “Perayaan tersebut dirayakan besar-besaran tidak hanya oleh orang Cina, tapi juga oleh orang Betawi,” tutur Ridwan.

Glodok-Tempo-Dulu

Perayaan Imlek dimulai pada malam sebelumnya, hampir sama dengan malam takbiran orang Islam. Pada malam itu orang Cina pergi soja (membakar hio) sembahyang, dan membeli keperluan Imlek. Biasanya orang Cina yang keluar rumah membeli kembang sedap malam di Pasar Baru Tangerang. Tapi beberapa juga ada yang sembahyang di rumah masing-masing.

Kegiatan di Pasar Baru Tangerang pada malam Imlek sangat ramai dikunjungi orang Cina dan Betawi. Tempat tersebut merupakan pusat kegiatan pasar malam Imlek. Kebanyakan datang untuk membeli kue keranjang (tiong ciu pia), kembang sedap malam, dan Patung Dewi Kwan Im. Selain di Pasar Baru Tangerang juga terdapat tempat lain seperti di Glodok, Mester, Senen.

Pada malam Imlek juga ada tradisi tidak boleh membersihkan rumah mereka karena kalau dibersihkan dulu sebelum Imlek tidak akan dapat rezeki. “Kalau nyapu duluan, rezekinya ikut kesapu,” kata Ridwan.

5046_111289406008_83275826008_2135411_4764941_n.jpg

Biasanya orang Betawi menghibur orang Cina dengan cara ngamen menyanyikan lagu keroncong, gambang kromong. Setelah menghibur, mereka mendapatkan uang angpao dan kue dodol dari orang Cina. Wilayah arak-arakan terdapat di seluruh wilayah kampung Betawi seperti Mangga Besar, Kwitang, Kota, Kebon Jeruk. Tidak hanya menghibur, orang Betawi juga memberikan ucapan selamat kepada orang Cina yang merayakan.

Pada saat Cap Gomeh, orang Cina pergi soja ke Pekonga alias rumah ibadah Konghucu. “Mereka melakukan arak-arakan dari pekong di Mester ke Senen lalu ke Pasar Baru sampai ke pusatnya di Glodok,” kata Ridwan.

Pada saat itu juga diadakan pesta yang juga diramaikan oleh orang-orang Betawi. Ridwan ingat betul pada saat arak-arakan ke Pekong sore hari pasti muncul Jeng Ge yang selalu dinanti-nanti masyarakat. Jeng Ge adalah sebutan wanita cantik memakai baju terusan panjang yang mirip baju Timur Tengah, dan berparas cantik lengkap dengan riasan wajah. Jeng Ge diarak di atas tandu yang megah, sehingga banyak yang terpukau. Wanita yang jadi Jeng Ge pasti merupakan wanita pilihan oleh pihak pusat kelenteng.

Setelah Cap Gomeh, pada hari ke-60 sampai ke-90 diadakan perayaan Ceng Beng. Pada saat Ceng Beng, orang Cina akan ziarah ke kuburan keluarganya. Sedangkan di saat yang sama orang-orang Betawi dan Melayu dipanggil ke rumah orang Cina untuk menangisi arwah leluhur mereka. “Orang Betawi diminta tolong nangisin arwah leluhur di rumah orang Cina tersebut, pas pulang bisa dapet pakaian-pakaian dan borsak (kasur),” kata Ridwan.

Memasuki hari ke-100, orang Cina akan merayakan Peh Cun. Pada perayaan ini diadakan kegiatan makan bakcang yaitu nasi berbentuk prisma segitiga berisi daging, menggantungkan rumput Ai dan Changpu di depan rumah, dan mandi pada tengah hari. Pada tahun 1950-an Peh Cun juga menggelar pasar malam yang menyediakan jajanan khas. Seperti es shanghai, yaitu semacam sop buah pada saat ini dan kacang kulit khas Imlek adalah yang paling spesial.

perayaan-tionghoa-di-bandoeng-1931.png

Pada bulan ketujuh diadakan Cit Gwe. Cit Gwee adalah perayaan menyambut arwah leluhur orang Cina yang dilepas oleh Dewa Giam Kun selama 15 hari. Orang Cina menyambut arwah dengan cara memberikan makanan di Kali Jodoh Tangerang. “Kali Jodoh itu pusatnya Cit Gwee, semua orang pasti ke sana,” kata Ridwan. Meski pusatnya di Tangerang,  ada juga beberapa tempat yang juga merayakan Cit Gwee, yakni di Angke dan Kwitang. Setelah Cit Gwee, orang Cina pun kembali bekerja keras lagi mengumpulkan kekayaan sampai datang Imlek lagi.

Semua perayaan itu akhirnya dilarang pada 1958 oleh Surat Keputusan yang dikeluarkan Wali Kota Jakarta Sudiro. Inti surat keputusan itu menyatakan pesta perayaan Imlek dianggap merusak moral masyarakat. Padahal orang Betawi sangat senang dengan perayaan Imlek dan memiliki hubungan harmonis dengan orang Cina. “Tidak ada bentrok dengan orang Cina, yang saya tahu pada saat itu bentrok antara pusat dan daerah,” tutur Ridwan. Orang-orang Betawi dan Melayu sangat sedih dengan dihapuskan perayaan imlek, apalagi dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 1959 yang melarang orang asing berusaha di bidang perdagangan eceran dari tingkat kabupaten ke bawah. Peraturan ini menyebabkan orang-orang Cina harus mengalihkan bisnisnya kepada pribumi. Peristiwa itu juga mengakibatkan eksodus besar-beasaran orang Cina nonwarga negara Indonesia dan Tionghoa peranakan kembali ke Cina Daratan.

Menurut Ridwan, ada beberapa tradisi tersebut yang sudah ditinggalkan. Arak-arakan ke Pekong sudah tidak lagi dijalani. Padahal arak-arakan itu membuat suasana lebih berkesan. “Dulu orang Cina merayakan bersama-sama dengan orang Betawi dengan harmonis, tidak ada bentrok,” tuturnya. Sangat disayangkan sekarang Imlek lebih sering dirayakan di mal, karena sudah banyak yang tidak tahu tradisi leluhur. Padahal banyak orang Cina yang tidak bisa merayakan Imlek dengan mewah di mal, contohnya Cina Benteng di Tangerang.

Bahkan penyebutan selamat tahun baru Imlek pun sudah berubah. Dulu kita mengucapkan Sin Cun Kiong Hi atau selamat tahun baru, tapi sekarang jadi Gong Xi Fat Cai. “Gong Xi Fat Cai itu adopsi dari Hong Kong lho, bukan dari Cina Daratan,” ujar Ridwan.

Sumber: https://travel.tempo.co/read/379007/perayaan-imlek-tempo-dulu-ternyata-lebih-meriah

Iklan

Sekilas Sejarah Kafe

mcnally_jackson_cafe_250310_01

Kata Kafe berasal dari bahasa Perancis yaitu cafe yang berarti coffee. Istilah ini muncul pada abad ke 18 di Inggris. Kopi pertama kali masuk ke Eropa pada tahun 1669 ketika utusan Sultan Mohammed IV berkunjung ke Paris, Perancis, dengan membawa berkarung-karung biji misterius yang kemudian dikenal dengan nama coffee.

Ketika utusan Sultan meninggalkan Paris, sejak itulah kebiasaan menikmati kopi yang dikenalkannya pada kaum bangsawan di Paris. Pada tahun 1672, Pascal, seorang pengusaha muda asal Armenia kemudian menjualnya secara umum, dimana dirinya pertama kali menjual di sebuah pameran besar di Saint Germain dan toko kecil yang berlokasi di Quai de Evole.

Jean de la Rogue juga berperan penting dalam sejarah kopi di Perancis. Dirinya menulis bahwa ketika tahun 1714 ia berjalan bergegas menuju jalan besar ke arah Jardin des Plants, dimana hampir tidak ada satu kota pun yang tidak memiliki kedai kopi. Berikutnya, penyebaran kafe di Eropa ini terjadi melalui jalur perdagangan ke wilayah Italia.

best-coffee-shops-barcelona

Di Indonesia, belakangan kedai kopi/kafe pun terus bermunculan. Dalam kaitan ini Stevan Lie, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) menjelaskan jika kafe konsepnya lebih ke lifestyle. Umumnya, coffe shop selain menjual aneka ragam kopi, juga menjual makanan ringan. Namun, orientasi bisnisnya lebih ke penjualan minuman terutama kopi.

Cosmo Café & Galería de Arte, Barcelona, Spain

Majalah Elshinta, Majels, Panduan Praktis Merintis Usaha Bisnis Kafe, Edisi 1/2017

Sergei Eisenstein, Biografi Singkat

402px-Sergei_Eisenstein_03

Sergei Mikhailovich Eisenstein (bahasa Rusia: Сергей Михайлович Эйзенштейн Sergej Mihajlovič Ejzenštejn; 23 Januari 1898 – 11 Februari 1948) adalah sutradara film Soviet Rusia yang revolusioner yang terkenal pada film Strike, Kapal Perang Potemkin dan October, dan juga Alexander Nevsky dan Ivan the Terrible.

Eisenstein lahir dari keluarga kelas menengah di Riga, Latvia (kemudian bagian dari Kekaisaran Rusia di Provinsi Livonia), namun keluarganya sering pindah pada tahun-tahun awal, seperti yang terus dilakukan Eisenstein sepanjang hidupnya. Ayahnya, Mikhail Osipovich Eisenstein lahir dari ayah Yahudi Jerman yang telah pindah agama ke Kristen, Osip Eisenstein, dan seorang ibu keturunan Swedia.  Ibunya, Julia Ivanovna Konetskaya, berasal dari keluarga Ortodoks Rusia. Menurut sumber lain, kedua kakek dari pihak ayah tersebut berasal dari keturunan Jerman Baltik. Ayahnya adalah seorang arsitek dan ibunya adalah putri seorang pedagang yang makmur. Julia meninggalkan Riga pada tahun yang sama dengan Revolusi Rusia tahun 1905, membawa Sergei bersamanya ke St. Petersburg. Putranya akan kembali pada waktu untuk melihat ayahnya, yang bergabung dengan mereka sekitar tahun 1910. Perceraian diikuti dan Julia meninggalkan keluarga untuk tinggal di Prancis. Eisenstein diangkat sebagai seorang Kristen Ortodoks, namun kemudian menjadi seorang ateis.

Di Institut Teknik Sipil Petrograd, Sergei mempelajari arsitektur dan teknik, profesi ayahnya. Pada tahun 1918 Sergei meninggalkan sekolah dan bergabung dengan Tentara Merah untuk melayani Revolusi Bolshevik, meskipun ayahnya Mikhail mendukung pihak yang berlawanan. Hal ini membawa ayahnya ke Jerman setelah kekalahan pemerintah Tsar, dan Sergei ke Petrograd, Vologda, dan Dvinsk.Pada tahun 1920, Sergei dipindahkan ke posisi komando di Minsk, setelah sukses memberikan propaganda untuk Revolusi Oktober. Pada saat ini, dia terkena teater Kabuki dan belajar bahasa Jepang, mempelajari 300 karakter kanji, yang dia sebutkan sebagai pengaruhnya terhadap perkembangan gambarnya. Studi ini akan membawanya ke Jepang.

Pada tahun 1920 Eisenstein pindah ke Moskow, dan memulai karirnya di bidang teater yang bekerja untuk Proletkult. Produksinya di sana berjudul Gas Masks, Listen Moscow, dan Wiseman. Eisenstein kemudian akan bekerja sebagai perancang untuk Vsevolod Meyerhold. Pada tahun 1923 Eisenstein memulai karirnya sebagai seorang ahli teori, dengan menulis The Montage of Attractions for LEF. Film pertama Eisenstein, Glumov’s Diary (untuk produksi teater Wiseman), juga dibuat pada tahun yang sama dengan Dziga Vertov pada awalnya disewa sebagai “instruktur.”

Strike (1925) adalah film fitur panjang Eisenstein yang pertama. Potemkin Battleship (1925) diakui secara kritis di seluruh dunia. Ini sebagian besar penghargaan kritis internasionalnya yang memungkinkan Eisenstein untuk mengarahkan Oktober (alias Sepuluh Hari yang Mengguncang Dunia) sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke sepuluh besar Revolusi Oktober 1917, dan kemudian The General Line (alias Old and New). Para kritikus dari dunia luar memuji mereka, tapi di rumah, fokus Eisenstein dalam film-film ini mengenai masalah struktural seperti sudut kamera, gerakan kerumunan, dan montase membawanya dan berpikiran serupa, seperti Vsevolod Pudovkin dan Alexander Dovzhenko, di bawah api dari komunitas film Soviet, memaksanya menerbitkan artikel publik tentang kritik dan komitmen diri untuk mereformasi visi sinematiknya agar sesuai dengan doktrin realisme sosialis yang semakin spesifik.

Pada musim gugur 1928, dengan Oktober masih di bawah api di banyak tempat tinggal Soviet, Eisenstein meninggalkan Uni Soviet untuk tur ke Eropa, ditemani oleh kolaborator film abadi Grigori Aleksandrov dan cinematographer Eduard Tisse. Secara resmi, perjalanan tersebut seharusnya memungkinkan Eisenstein dan perusahaannya untuk belajar tentang gambar-gambar suara dan untuk mempresentasikan seniman Soviet yang terkenal secara langsung kepada orang kapitalis Barat. Bagi Eisenstein, bagaimanapun, ini juga merupakan kesempatan untuk melihat lanskap dan budaya di luar yang ditemukan di dalam Uni Soviet. Dia menghabiskan dua tahun tur dan ceramah di Berlin, Zürich, London, dan Paris. [23] Pada tahun 1929, di Swiss, Eisenstein membawakan sebuah dokumenter pendidikan tentang aborsi yang disutradarai oleh Tissé yang berjudul Frauennot – Frauenglück. [24]

Pada akhir April 1930, Jesse L. Lasky, atas nama Paramount Pictures, memberi Eisenstein kesempatan untuk membuat film di Amerika Serikat. [25] Dia menerima kontrak jangka pendek seharga $ 100.000 dan tiba di Hollywood pada bulan Mei 1930, bersama dengan Aleksandrov dan Tisse.

Eisenstein mengajukan biografi taipan munisi Sir Basil Zaharoff dan versi film Arms and the Man oleh George Bernard Shaw, dan rencana pengembangan yang lebih lengkap untuk film Sutter’s Gold oleh Jack London, [26] namun di semua akun gagal mengesankan produsen studio. [27] Paramount kemudian mengusulkan sebuah versi film Theodore Dreiser’s American Tragedi. [28] Eisenstein yang bersemangat ini, yang telah membaca dan menyukai pekerjaan itu, dan pernah bertemu dengan Dreiser pada suatu waktu di Moskow. Eisenstein menyelesaikan sebuah skrip pada awal Oktober 1930, [29] namun Paramount tidak menyukainya sepenuhnya dan, selain itu, mendapati dirinya terintimidasi oleh Mayor Frank Pease, [30] presiden Institut Teknik Hollywood. Pease, seorang anti-komunis, melakukan kampanye publik melawan Eisenstein. Pada tanggal 23 Oktober 1930, dengan “persetujuan bersama,” Paramount dan Eisenstein menyatakan bahwa kontrak mereka batal demi hukum, dan partai Eisenstein diperlakukan untuk mengembalikan tiket ke Moskow atas biaya Paramount. [31]

Dengan demikian Eisenstein menghadapi kegagalan pulang. Industri film Soviet memecahkan masalah film suara tanpa dia dan film, teknik, dan teorinya menjadi semakin diserang sebagai ‘kegagalan ideologis’ dan contoh utama formalisme. Banyak artikel teoretisnya dari periode ini, seperti Eisenstein on Disney, telah muncul beberapa dekade kemudian sebagai teks ilmiah mani yang digunakan sebagai kurikulum di sekolah film di seluruh dunia. [Rujukan?]

Eisenstein dan rombongannya menghabiskan banyak waktu dengan Charlie Chaplin, [32] yang merekomendasikan agar Eisenstein bertemu dengan seorang dermawan yang bersimpati dalam diri penulis sosialis Amerika Upton Sinclair. [33] Karya Sinclair telah diterima oleh dan banyak dibaca di Uni Soviet, dan diketahui oleh Eisenstein. Keduanya saling mengagumi dan antara akhir Oktober 1930 dan Thanksgiving tahun itu, Sinclair telah mendapatkan perpanjangan status absen Eisenstein dari Uni Soviet, dan izin kepadanya untuk melakukan perjalanan ke Meksiko. Perjalanan ke Meksiko adalah untuk Eisenstein membuat film yang diproduksi oleh Sinclair dan istrinya, Mary Craig Kimbrough Sinclair, dan tiga investor lainnya yang diorganisir sebagai “Film Film Trust”.

Pada tanggal 24 November 1930, Eisenstein menandatangani sebuah kontrak dengan Trust “atas dasar keinginannya untuk bebas mengarahkan pembuatan sebuah gambar sesuai dengan gagasannya sendiri tentang gambaran seorang Meksiko, dan dengan keyakinan sepenuhnya akan seni Eisenstein. integritas. “[35] Kontrak tersebut juga menetapkan bahwa film tersebut akan” non-politis, “bahwa dana yang tersedia segera diperoleh dari Mary Sinclair dalam jumlah” tidak kurang dari Dua Puluh Lima Ribu Dolar, “[36] bahwa penembakan tersebut jadwal adalah “periode dari tiga sampai empat bulan,” [36] dan yang terpenting adalah bahwa “Eisenstein selanjutnya setuju bahwa semua gambar yang dibuat atau disutradarai olehnya di Meksiko, semua film negatif dan cetakan positif, dan semua cerita dan gagasan tercakup dalam kata gambar Meksiko, akan menjadi milik Nyonya Sinclair … “[36] Sebuah codicil untuk kontrak mengizinkan” Pemerintah Soviet mungkin memiliki film [selesai] yang gratis untuk ditampilkan di dalam Uni Soviet “[37] Dilaporkan, itu secara lisan diklarifikasi bahwa harapannya adalah untuk seekor sirip film ished sekitar satu jam lamanya.

Pada tanggal 4 Desember, Eisenstein sedang dalam perjalanan ke Meksiko dengan kereta api, ditemani oleh Aleksandrov dan Tisse. Kemudian dia membuat sebuah sinopsis singkat dari film enam bagian yang akan datang, dalam satu bentuk atau lainnya, menjadi rencana akhir yang akan diselesaikan Eisenstein untuk proyeknya. Judul untuk proyek tersebut, ‘Que viva México !, diputuskan beberapa waktu kemudian. Sementara di Meksiko Eisenstein bercampur aduk dengan Frida Kahlo dan Diego Rivera. Eisenstein mengagumi seniman dan budaya Meksiko ini pada umumnya, dan mereka mengilhami Eisenstein untuk menyebut filmnya “fresko bergerak”. [38] Komunitas film Left A.S. dengan bersemangat mengikuti kemajuan Eisenstein di Meksiko seperti yang dicatat dalam buku Chris Robe Left of Hollywood: Cinema, Modernism, dan Munculnya Budaya Film Radikal A.S. [39]

Setelah absen dalam waktu lama, Stalin mengirim sebuah telegram yang mengungkapkan kekhawatiran bahwa Eisenstein telah menjadi orang yang deserter. [40] Di bawah tekanan, Eisenstein menyalahkan adik perempuan Mary Sinclair, Hunter Kimbrough, yang telah dikirim untuk bertindak sebagai produser lini, atas masalah film tersebut. [41] Eisenstein berharap untuk menekan Sinclairs untuk menyindir diri mereka sendiri antara dia dan Stalin, jadi Eisenstein bisa menyelesaikan filmnya dengan caranya sendiri. Sinclairs yang marah menghentikan produksi dan memerintahkan Kimbrough untuk kembali ke Amerika Serikat dengan rekaman film yang tersisa dan tiga Soviet untuk melihat apa yang bisa mereka lakukan dengan film yang telah ditembak, memperkirakan mulai dari 170.000 kaki garis dengan Soldadera tidak difilter, [42] ke sebuah kelebihan dari 250.000 kaki garis. [43]

Untuk film yang belum selesai dari “novel” Soldadera, tanpa menimbulkan biaya apapun, Eisenstein telah mengamankan 500 tentara, 10.000 senjata api, dan 50 meriam dari Angkatan Darat Meksiko, [41] namun ini hilang karena pembatalan produksi Sinclair. Ketika Eisenstein tiba di perbatasan Amerika, pencarian kebiasaan kopernya menunjukkan sketsa dan gambar karikatur Yesus di antara bahan pornografi cabul lainnya. [44] [45] Visa re-entry-nya telah habis masa berlakunya, [46] dan kontak Sinclair di Washington tidak dapat memberinya tambahan tambahan. Eisenstein, Aleksandrov, dan Tisse diizinkan, setelah tinggal sebulan di perbatasan AS-Meksiko di luar Laredo, Texas, sebuah “umpan” 30 hari untuk pergi dari Texas ke New York, [46] dan kemudian berangkat ke Moskow, sementara Kimbrough kembali ke Los Angeles dengan film yang tersisa.

Eisenstein berkeliling ke South America, dalam perjalanan ke New York. Pada pertengahan 1932, Sinclairs berhasil mengamankan layanan Sol Lesser, yang baru saja membuka kantor distribusinya di New York, Principal Distributing Corporation. Lesser setuju untuk mengawasi pekerjaan pasca produksi di mil negatif – dengan biaya Sinclairs – dan mendistribusikan produk yang dihasilkan. Dua film pendek dan subjek pendek – Thunder Over Mexico berdasarkan rekaman “Maguey”, [47] Eisenstein di Meksiko, dan Hari Kematian masing-masing – selesai dan dilepaskan di Amerika Serikat antara musim gugur 1933 dan awal 1934. Eisenstein Tidak pernah melihat film Sinclair-Lesser, atau usaha selanjutnya oleh penulis biografi pertamanya, Marie Seton, yang disebut Time in the Sun [48] yang dirilis pada tahun 1940. Dia secara terbuka akan menyatakan bahwa dia telah kehilangan semua minat dalam proyek ini. Pada tahun 1978, Gregori Aleksandrov merilis – dengan nama yang sama bertentangan dengan hak cipta – versinya sendiri, yang dianugerahi dengan Honorable Golden Prize di Festival Film Internasional ke-11 di tahun 1979. Kemudian, pada tahun 1998, Oleg Kovalov mengedit versi gratis dari film tersebut, menyebutnya “Mexican Fantasy”.

Film Peter Greenaway di tahun 2015, Eisenstein di Guanajuato adalah tentang hubungan cinta sang direktur dengan pemandu selama tinggal di Meksiko.

Perjuangan Eisenstein ke barat membuat industri film Stalis yang kukuh menatapnya dengan curiga sehingga tidak akan pernah benar-benar hilang. Dia rupanya menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit jiwa di Kislovodsk pada bulan Juli 1933, [49] seolah-olah akibat depresi yang lahir dari penerimaan terakhirnya bahwa dia tidak akan diizinkan untuk mengedit rekaman Meksiko tersebut. [50] Dia kemudian diberi posisi mengajar di Institut Ilmu Pengetahuan Negara dimana dia mengajar sebelumnya dan pada tahun 1933 dan 1934 bertugas untuk menulis kurikulum. [51] Pada tahun 1934, Eisenstein menikahi pembuat film dan penulis Pera Atasheva (lahir di Pearl Moiseyevna Fogelman; tanggal 1900-65) [52] [53] [54] dan tetap menikah sampai kematiannya pada tahun 1948, meskipun telah lama ada beberapa spekulasi tentang seksnya. orientasi [55] [56]

Kemudian, pada tahun 1935, dia ditugaskan proyek lain, Bezhin Meadow, tapi nampaknya film itu mengalami banyak masalah yang sama dengan ‘Que viva México !. Eisenstein secara sepihak memutuskan untuk memfilmkan dua skenario skenario, satu untuk pemirsa dewasa dan satu untuk anak-anak; gagal menentukan jadwal pemotretan yang jelas; dan menembak film secara luar biasa, menghasilkan overruns biaya dan melewatkan tenggat waktu. Boris Shumyatsky akhirnya menghentikan proses pembuatan film dan membatalkan produksi lebih lanjut. Hal yang tampaknya menyelamatkan karier Eisenstein pada saat ini adalah bahwa Stalin akhirnya mengambil posisi bahwa malapetaka Bezhin Meadow, bersama dengan beberapa masalah lain yang dihadapi industri pada saat itu, tidak ada hubungannya dengan pendekatan Eisenstein dalam pembuatan film seperti para eksekutif yang seharusnya mengawasinya. Akhirnya, ini turun di pundak Shumyatsky, [57] yang pada awal 1938 dikecam, ditangkap, diadili dan dihukum sebagai pengkhianat, dan ditembak. (Eksekutif produksi di studio Film Mosfilm, tempat Meadow sedang dibuat, juga diganti, namun tanpa eksekusi lebih lanjut.)

Eisenstein kemudian bisa menyatukan dirinya dengan Stalin untuk ‘satu kesempatan lagi’, dan dia memilih, dari dua persembahan, penugasan biopic Alexander Nevsky, dengan musik yang disusun oleh Sergei Prokofiev. [58] Kali ini, dia ditugaskan sebagai co-scenarist, Pyotr Pavlenko, [59] untuk membawa naskah yang lengkap; aktor profesional untuk memainkan peran; dan asisten direktur, Dmitri Vasilyev, untuk mempercepat penembakan. [59]

Hasilnya adalah sebuah film yang diterima dengan sangat baik oleh Soviet dan di Barat, yang memenangkannya Order of Lenin dan Stalin Prize. [60] Itu adalah peringatan alegori dan tegas yang jelas melawan kekuatan massa Nazi Jerman, dimainkan dengan baik dan dilakukan dengan baik. Naskah tersebut mengatakan bahwa Nevsky mengucapkan sejumlah peribahasa Rusia tradisional, secara verbal membasmi pertarungannya melawan penjajah Jerman dalam tradisi Rusia. [61] Ini dimulai, selesai, dan ditempatkan dalam distribusi semua dalam tahun 1938, dan tidak hanya mewakili film pertama Eisenstein dalam hampir satu dekade namun juga film suaranya yang pertama.

Film Eisenstein, Ivan The Terrible, Bagian I, yang menghadirkan Ivan IV dari Rusia sebagai pahlawan nasional, mendapat persetujuan Joseph Stalin (dan Hadiah Stalin), [63] namun sekuelnya, Ivan The Terrible, Bagian II dikritik oleh berbagai otoritas dan akan diluncurkan sampai tahun 1958. Semua cuplikan dari Ivan The Terrible, Part III yang belum lengkap disita, dan sebagian besar hancur [64] (meski beberapa adegan syuting masih ada sampai sekarang).

Kesehatan Eisenstein juga gagal. Dia dikejutkan oleh serangan jantung yang serius pada tanggal 2 Februari 1946, dan menghabiskan sebagian besar tahun berikutnya untuk pulih. Dia meninggal karena serangan jantung lainnya pada usia 50. [65] Dia ditemukan di lantai flat Moskow-nya pada pagi hari tanggal 11 Februari 1948. Mayat itu terbaring di tengah Hall of the Cinema Workers, di bawah selebaran beludru bersulam emas dan dikelilingi oleh banyak bunga, sebelum dikremasi. pada tanggal 13 Februari. Abu itu dikuburkan di tanah tertutup yang tertutup salju dari Pemakaman Novodevichy di Moskow.

Eisenstein adalah pelopor dalam penggunaan montase, penggunaan film editing yang spesifik. Dia dan kontemporernya, Lev Kuleshov, dua teoretikus film paling awal, berpendapat bahwa montase adalah inti dari bioskop. Artikel dan buku-terutama Film Form dan The Film Sense-menjelaskan pentingnya montase secara rinci.

Tulisan dan filmnya terus memberi dampak besar pada pembuat film berikutnya. Eisenstein percaya bahwa pengeditan bisa digunakan lebih dari sekedar menguraikan suatu adegan atau momen, melalui “keterkaitan” gambar terkait. Eisenstein merasa “tabrakan” tembakan bisa digunakan untuk memanipulasi emosi penonton dan menciptakan metafora film. Dia percaya bahwa sebuah ide harus diturunkan dari penjajaran dua tembakan independen, membawa unsur kolase ke dalam film. Dia mengembangkan apa yang dia sebut “metode montase”:

Metrik [67]
Rhythmic [68]
Tonal [69]
Overtonal [70]
Intelektual [71]
Eisenstein mengajar pembuatan film selama karirnya di GIK di mana dia menulis kurikulum untuk kursus direksi; [72] ilustrasi kelasnya direproduksi dalam Pelajaran Vladimir Nizhnions dengan Eisenstein. Latihan dan contoh untuk siswa didasarkan pada literatur rendering seperti Honoré de Balzac Le Père Goriot. [73] Hipotesis lain adalah pementasan perjuangan kemerdekaan Haiti seperti yang digambarkan dalam Konsul Hitam The Anatolii Vinogradov, [74] juga dipengaruhi oleh Mulia John Vandercook. [75]

Pelajaran dari skenario ini membahas karakter Jean-Jacques Dessalines, mengulangi gerakan, tindakan, dan drama yang mengelilinginya. Lebih jauh lagi dengan didaktik konten sastra dan dramatis, Eisenstein mengajarkan teknik mengarahkan, fotografi, dan pengeditan, sekaligus mendorong perkembangan individualitas, ekspresivitas, dan kreativitas murid-muridnya. [76] Pedagogi Eisenstein, seperti film-filmnya, secara politis dibebankan dan berisi kutipan dari Vladimir Lenin yang terjalin dengan ajarannya. [77]

Dalam film awalnya, Eisenstein tidak menggunakan aktor profesional. Ceritanya menghindari karakter individu dan membahas masalah sosial yang luas, terutama konflik kelas. Dia menggunakan karakter stok, dan perannya diisi dengan orang-orang yang tidak terlatih dari kelas yang sesuai; dia menghindari casting bintang. [78] Visi Eisenstein mengenai komunisme membuatnya terlibat konflik dengan para pejabat di rezim Joseph Stalin yang berkuasa. Seperti banyak seniman Bolshevik lainnya, Eisenstein membayangkan sebuah masyarakat baru yang akan mensubsidi para seniman secara total, [rujukan?] Membebaskan mereka dari batas-batas bos dan anggaran, membiarkan mereka benar-benar bebas untuk menciptakannya, namun anggaran dan produsen sama pentingnya dengan industri film Soviet seluruh dunia. Karena perang yang masih muda, negara baru yang dilanda revolusi dan terisolasi ini tidak memiliki sumber daya untuk menasionalisasi industri filmnya pada awalnya. Ketika itu terjadi, sumber daya terbatas – baik kontrol produksi yang dibutuhkan oleh sektor moneter maupun peralatan yang luas seperti di dunia kapitalis.

Honours and awards

Writings

  • Selected articles in: Christie, Ian; Taylor, Richard, eds. (1994), The Film Factory: Russian and Soviet Cinema in Documents, 1896–1939, New York, New York: Routledge, ISBN 0-415-05298-X.
  • Eisenstein, Sergei (1949), Film Form: Essays in Film Theory, New York: Hartcourt; translated by Jay Leyda.
  • Eisenstein, Sergei (1942) The Film Sense, New York: Hartcourt; translated by Jay Leyda.
  • Eisenstein, Sergei (1959), Notes of a film director, Foreign Languages Pub. House; translated by X. Danko Online version
  • Eisenstein, Sergei (1972), Que Viva Mexico!, New York: Arno, ISBN 978-0-405-03916-4.
  • Eisenstein, Sergei (1994) Towards a Theory of Montage, British Film Institute.
In Russian, and available online
  • Эйзенштейн, Сергей (1968), “Сергей Эйзенштейн” (избр. произв. в 6 тт), Москва: ИскусствоИзбранные статьи.

-Biografi Singkat- Vincent Van Gogh

5

Lahir 1853 di Groot-Zundert, di Breda, Negeri Belanda

Pelukis yang diabaikan dan disalahpahamkan pada masa hidupnya

Bunuh diri 1890 pada usia 37 tahun

Sebagai putra seorang pendeta Protestan, Vincent dididik bahwa hidup berguna itu berarti menyediakan diri sendiri untuk orang lain. Dia anak yang canggung, kesepian, dan agak sulit menganggap sekolah itu menekan dan tak berfaedah. Dia menjadi amat alim dan dilatih untuk hidup sebagai misionaris. Beberapa waktu dia bekerja di daerah pertambangan miskin di Belgia. Meski hidup miskin, dia berusaha sebisa-bisanya menolong orang lain. Namun, kepribadiannya yang murung menghalangi keberhasilannya bekerja di gereja atau pekerjaan lain yang dicobanya. Adik kesayangannya, Theo, meski juga miskin, membantunya bertahan hidup.

van_gogh_vincent_7

Vincent belajar menggambarkan dan melukis dan berusaha keras untuk meningkatkan keterampilannya. Lukisan awalnya di Negeri Belanda dan Belgia gelap dan suram, menampilkan kehidupan nista para pekerja miskin. Kemudian dia pergi ke Paris dan ke Prancis Selatan tempat dia bekerja bersama pelukis lain, termasuk Gauguin. Di bawah pengaruh mereka dia bereksperimen dengan warna-warna cerah dan jelas, menyapukan kuas kuat-kuat ke atas kanvas. Teknik ini khusus menjadi milik Van Gogh. Sapuan kuasnya yang lugas dan bergairah menunjukkan emosi yang dalam dan sejenis kekalutan meski subjek lukisan itu sendiri damai. Lukisannya adalah benda-benda biasa dalam hidup: kamar tidurnya, sebuah kursi, atau seikat bunga matahari. Dia tak pernah melukis subjek agung apa pun.

_fronts_N-3863-00-000095-WZ-PYR

Dia mejalani 2 tahun akhir hidupnya di Arles, Prancis Selatan. Hari-harinya sibuk tak keruan dan produktif, tetapi juga kacau-balau. Saat-saat penuh kreativitas energik berubah menjadi depresi berat dan saat kegilaan. Van Gogh mengiris telinganya sendiri pada saat kritis tersebut. Setelah hanya melukis selama 10 tahun, dia membunuh dirinya sendiri. Kejeniusannya baru diakui setelah dia meninggal. Dia hanya menjual lukisan selama hidupnya.

George Méliès, Biografi Singkat 

George_Melies

Georges Méliès (1861-1938; nama lahir:Marie-Georges-Jean Méliès) adalah seorang pembuat film dan ilusionis berkebangsaan Perancis. Ia juga merupakan seorang pesulap sukses yang mempunyai sebuah teater yang dibangun oleh pesulap terkenal Robert-Houdin. Setelah melihat film pertamanya, pada tahun 1895, Méliès membeli kamera perekam pertamanya dan mulai membuat film. Secara saksama, ia mempelajari teknologi perfilman, kemudian ia memperoleh proyektor, mesin cetak, dan perlengkapan lain yang dibuat khusus memenuhi keinginan Méliès.

georges_melies_set_design_ransom_and_mitchell_guest_curation_art_attacks_online_007-e1437247838130

Méliès kemudian memulai menggunakan kameranya untuk mendokumentasikan pentas pertunjukan pada teater Robert-Houdin. Pada akhir tahun 1896, Méliès mulai mengkimbinasikan pengetahuannya mengenai seni sulap dengan pembuatan film. Hal ini menghasilkan sebuah film dengan nuansa ilusi, yang menampilkan pemeran yang muncul dan kemudian menghilang, atau sebuah objek yang berubah wujud menjadi objek lainnya.

 

Seperti kebanyakan film pada jamannya, film buatan Méliès berdurasi cukup pendek, hanya beberapa menit. Filmnya yang paling terkenal, “Le Voyage dans la Lune” (Perjalanan ke Bulan), berdurasi paling panjang, yaitu sekitar 20 menit. Film tersebut juga ditetapkan sebagai film paling kompleks yang pernah Méliès buat. Film tersebut dibuat bedasarkan sebuah novel yang berjudul “From the Earth to the Moon“, karya Jules Verne.

Voyage_dans_la_lune_title_card

georges_melies_set_design_ransom_and_mitchell_guest_curation_art_attacks_online_004-e1437247782846

georges_melies_set_design_ransom_and_mitchell_guest_curation_art_attacks_online_010-e1437247896663

59666-004-7CE12ED5

Peace Corps : Misi Perdamaian Amerika Serikat di Indonesia

Penelitian ini merupakan tugas akhir/skripsi S-1 dari Muhammad Inu Kertapati, mahasiswa Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, tahun 2011. Berikut abstrak dari skripsi ini.

ABSTRAK

Nama : Muhammad Inu Kertapati
Program Studi : Ilmu Sejarah
Judul : Peace Corps: Misi Perdamaian Amerika Serikat Di Indonesia 1963- 1965

Penulisan skripsi mengenai program bantuan Peace Corps di Indonesia ini ditujukan untuk melengkapi tentang sejarah hubungan Indonesia-Amerika Serikat. Penulisan ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahapan, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penulisan ini juga menggunakan sumber lisan seperti wawancara untuk mendukung sumber-sumber tertulis yang telah digunakan.

Misi Perdamaian Peace Corps di Indonesia pada tahun 1963-1965 merupakan kebijakan bantuan luar negeri Amerika Serikat pada masa Presiden John F. Kennedy. Bantuan Peace Corps di Indonesia meliputi pengiriman sukarelawan pelatih-pelatih olahraga dan guru bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan pemuda-pemudi Indonesia serta membangun hubungan persahabatan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Sayangnya aktivitas sukarelawan Peace Corps di Indonesia tidak dapat diselesaikan karena munculnya ancaman gerakan demonstrasi simpatisan komunis terhadap orang-orang Amerika di Indonesia pada tahun 1964-1965. Di balik terbatasnya aktivitas sukarelawan dalam membantu masyarakat Indonesia pada saat itu, Peace Corps telah memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar bantuan, yaitu membangun persahabatan Indonesia – Amerika Serikat melalui pendekatan personal.

Kata Kunci:
Kebijakan bantuan luar negeri, Peace Corps, Hubungan Indonesia-Amerika Serikat

English Version

ABSTRACT

Name : Muhammad Inu Kertapati
Study Program : History
Title : Peace Corps: United States Peace Mission in Indonesia 1963-1965

The aim of this mini thesis about Peace Corps program aid in Indonesia is to make a contribution in historiography of Indonesia-United States relation. This historiography was done with using historical method which contains of four steps, heuristic, critic, interpretation, and historiography. It also use oral sources such as interview to support written sources (books, article, etc) that had been used before.

Peace Corps in Indonesia 1963-1965: Peaceful Mission was one of the United States foreign assistance policies in John F. Kennedy’s administration. Peace Corps assistance in Indonesia comprise of sending volunteers such as sports coaches and English teachers to improve Indonesian youth ability and also build a good friendship between Indonesia and United States of America. Unfortunately, the Peace Corps volunteer activity in Indonesia had to be suspended in early of 1965 because the protest that emerged toward American peoples in Indonesia in year 1964-1965. In spite of the volunteer’s limited activity when assisting Indonesian society at that moment, Peace Corps had given something more than aid, which is to building up Indonesia – United States friendship through personal approach.
Key word:

Foreign assistance policies, Peace Corps, Indonesia-United States Relation

Untuk dapat membaca skripsi ini lebih lanjut dapat diakses secara langsung di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia di Depok. (For further reading of this graduate mini-thesis, you can access on University of Indonesia Library Center in Depok).
Terima Kasih

Diplomasi Indonesia-Amerika Serikat di Masa-Masa Sulit tahun 1964-1965

Sejak memperoleh pengakuan kedaulatan sebagai sebuah negara melalui perundingan Konferensi Meja Bundar di tahun 1949, Indonesia memiliki kesempatan untuk berhubungan dengan negara-negara di dunia internasional. Hubungan antar negara dalam bidang politik ini disebut dengan diplomasi. Sejak awal Indonesia memiliki gagasan politik luar negeri yang bebas dan aktif yakni bebas berhubungan dengan negara manapun dan turut aktif dalam forum internasional. Gagasan tersebut dipilih oleh para pemimpin Indonesia sebagai dasar berdiplomasi dalam dunia internasional tetapi tidak mengikat pada salah satu kelompok dalam konteks Perang Dingin.
Seperti yang kita ketahui pasca Perang Dunia II muncul konflik di antara dua pemenang perang yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Keduanya bertentangan dalam hal ideologi antara demokrasi atau dunia bebas (free world) dengan komunis. Alasan lainnya adalah masalah wilayah bekas jajahan Jerman pada masa Perang Dunia II di Eropa. Uni Soviet menghendaki negara-negara bekas jajahan Jerman untuk menjadi bagian negara Uni Soviet dan mengikuti paham komunisme. Di sisi lain Amerika Serikat menentang hal tersebut dan mencoba mempengaruhi negara-negara Eropa Timur itu dengan memberikan bantuan ekonomi Marshall Plan. Persaingan Perang Dingin antara A.S. dan Uni Soviet ini tetap bertahan dan memperluas wilayah persaingannya sampai ke Asia dan Timur Tengah dan berakhir pada dekade 1980an.
Konflik Perang Dingin ini pun menyeret Indonesia masuk ke dalam politik luar negeri A.S. dan Uni Soviet. Jatuhnya Cina Daratan kepada komunis di tahun 1949 dan ancaman pengaruh komunisme di Vietnam membuat Amerika Serikat meningkatkan fokus kebijakan politik luar negerinya terhadap negara-negara di Asia Tenggara. Kekhawatiran A.S. semakin kuat terhadap teori domino yakni teori yang mengibaratkan negara-negara di Asia Tenggara yang akan berjatuhan secara berurutan kepada pengaruh komunisme dari utara (dalam hal ini Cina Daratan). Indonesia pun diperhitungkan sebagai negara yang rentan terhadap komunisme dan yang terutama sebagai penyedia sumber daya alam untuk Amerika Serikat.
Pada masa pemerintahan John F. Kennedy di tahun 1961, Indonesia berharap bahwa Amerika Serikat akan mendukungnya dalam pembebasan Irian Barat. Meski pada awalnya A.S. bersikap netral akan tetapi pada akhirnya A.S. bersedia membantu Indonesia dengan beberapa alasan internal maupun eksternal dan berhasil mengembalikan Irian Barat sesuai dengan perjanjian Konferensi Meja Bundar. Citra A.S. pun membaik di mata Indonesia yang sebelumnya dianggap sebagai pendukung pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1958. Kesempatan ini dimanfaatkan A.S. untuk memperbaiki hubungan diplomasi dengan Indonesia sekaligus membendung pengaruh komunisme Soviet melalui pemberian bantuan ekonomi dan bantuan ahli-ahli dalam bidang teknologi, pendidikan, kesehatan, dan olahraga. Program bantuan yang bernama action plan ini merupakan penawaran dari Presiden Kennedy kepada Presiden Sukarno dengan bujukan dari Duta Besar A.S. di Indonesia Howard P. Jones pada tahun 1962. Program bantuan ekonomi dan sebagainya itu dianggap sejalan dengan Program Pembangunan Delapan Tahun yang direncakan Indonesia pada saat itu.
Diplomasi Indonesia pada tahun 1960an (masa Demokrasi Terpimpin) lebih menunjukkan peran Presiden Sukarno sebagai pengambil keputusan utama dalam politik dalam negeri dan luar negeri. Meskipun demikian, Sukarno juga tidak lepas dari pengaruh orang-orang di sekitarnya, mulai dari pihak militer, PKI, dan menteri terdekatnya (seperti Subandrio). Presiden Sukarno menerima program bantuan dari Amerika Serikat atas dasar hutang budi kepada Presiden Kennedy yang telah membantunya dan memberikan sikap persahabatan. Ikatan persahabatan personal di antara kedua presiden tersebut mempengaruhi membaiknya hubungan Indonesia-Amerika Serikat dalam masa yang singkat mulai pada akhir tahun 1962 hingga awal 1963.
Hubungan yang diharapkan A.S. akan semakin membaik hanya bertahan beberapa bulan. Diumumkannya berita pembentukan Malaysia (dengan menyatukan Federasi Malaya ditambah Sarawak, Sabah, dan Siangpura) pada tanggal 16 September 1963 dengan dukungan penuh dari Inggris menjadi pemicu dilaksanakannya kebijakan garis keras Indonesia terhadap Malaysia dan neokolonialisme Barat. Pada awal konflik ini Amerika Serikat sempat diminta untuk mendukung Indonesia dalam pengajuan proposal mengenai masalah Serawak, Sabah, dan Brunei, akan tetapi A.S. tidak bisa melawan sekutunya yaitu Inggris. Maka Amerika Serikat dengan berat hati menolak permintaan sekaligus mengorbankan kepentingannya di Indonesia. Kekecewaan Sukarno terhadap sikap Amerika Serikat juga merambat sampai ke seluruh rakyat Indonesia, alhasil gerakan demonstrasi menentang Malaysia, Inggris, dan Amerika Serikat timbul dalam jumlah yang sangat besar pada tahun 1964.
Konfrontasi dengan Malaysia merupakan satu momen yang penting bagi politik luar negeri Indonesia, pertama untuk memperjuangkan negara-negara di Asia Tenggara yang bebas dari kolonialisme model baru dan kedua sebagai panggung unjuk kekuatan Indonesia (khususnya Sukarno) di mata dunia internasional. Seluruh komando berada di dalam satu pimpinan yaitu Presiden Sukarno, jadi seluruh komponen dalam lembaga pemerintahan, militer, dan organisasi lainnya harus mengikuti perintahnya apabila ingin bertahan atau memilih dilenyapkan jika berani menentangnya. Seperti yang terjadi dengan partai-partai yang dilarang seperti PSI, Masyumi serta organisasi BPS (Badan Pelindung Sukarnoisme).
Tidak ada upaya untuk memperbaiki keretakan hubungan tersebut meskipun masih ada sedikit hubungan yang dilakukan antara orang Indonesia dengan A.S. Sebelum seluruh program bantuan dibekukan (kecuali program beasiswa pelajar Indonesia di Amerika Serikat), masih ada kontak dari kelompok pro terhadap Amerika Serikat seperti Angkatan Darat dan beberapa menteri. Bantuan peralatan untuk kepolisian dan militer, bantuan sukarelawan Peace Corps masih sempat dijalankan di masa-masa sulit meski terus dipertimbangkan masalah keamanannya. Beberapa kredit luar negeri dan investasi dari Amerika Serikat juga masih dipertahankan. Pada saat pengambilalihan perusahaan asing oleh pihak Indonesia, perusahaan minyak Amerika Serikat juga tidak diambil alih karena merupakan obyek yang sangat vital bagi jantung perekonomian negara. Minyak merupakan pendukung utama perekonomian Indonesia dan apabila para ahli minyak dari luar negeri tersebut diusir maka ekonomi diperkirakan jatuh. Untuk itu beberapa obyek vital dalam bidang perekonomian perlu dipertahankan (pada tahun 1965 pengambilalihan pun terjadi) melalui bantuan pihak pro-Amerika Serikat.
Aksi pembakaran gedung-gedung serta pemboikotan fasilitas-fasilitas milik pemerintah Amerika Serikat di Indonesia menyulut kemarahan para pemimpin di Kongres untuk memberikan teguran keras kepada pemerintah Indonesia mengenai keamanan asetnya. Meskipun terdapat kubu orang Amerika pro-Indonesia seperti Dubes Jones yang menghendaki dilaksanakannya kebijakan yang bersahabat terhadap Indonesia, namun di lain pihak, elit A.S. anti- Sukarno lebih menginginkan kebijakan yang lebih tegas dengan jalan memutuskan hubungan diplomatik dalam sementara waktu sampai tercipta pemerintahan yang kondusif bagi kepentingan A.S.
Kombinasi kekuatan antara Sukarno dan Subandrio yang diilhami semangat revolusi dan anti-neokolonialisme barat telah menciptakan diplomasi yang keras terhadap A.S. Di saat tidak ada negara besar yang mendukung langkah Indonesia, kekuatan revolusioner semakin bertambah besar dan mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia. Faktor kepemimpinan Presiden Sukarno merupakan factor utama dalam pengambilan keputusan terhadap masalah diplomasi internasional. Para menteri dan orang-orang di bawah Sukarno harus mengikuti kehendaknya apabila ingin tetap bertahan dalam tatanan politik Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan kebijakan garis keras ini dapat dengan mudah diterima dan dilaksanakan oleh banyak orang Indonesia.
Akibat dari diplomasi yang keras terhadap Amerika Serikat, Indonesia menjadi terisolasi dari hubungan dengan banyak negara di dunia sementara itu ia mengikat hubungan dengan kelompok minoritas penganut komunisme, yakni Cina, Kamboja, Vietnam Utara, dan Korea Utara. Kondisi politik luar negeri yang mengarah ke kiri ini juga mengakibatkan kondisi perekonomian dalam negeri yang semakin memburuk. Tingkat inflasi mulai menembus angka ratusan hingga menyebabkan tingginya harga-harga kebutuhan pokok di masyarakat. Kesejahteraan sosial belum tercapai secara merata dan sebagai gantinya diberikan makanan berupa semangat-semangat revolusi. Pemerintah A.S. pun berencana untuk mengambil sikap menjaga jarak dengan Indonesia sambil menunggu pemerintahan yang baru muncul menggantikan kepemimpinan Sukarno.

Referensi
Gardner, Paul F., Shared Hopes, Separate Fears : Fifty Years of US-Indonesia Relations. Colorado : Westview Press, 1997
Jones, Howard P., Indonesia, The Possible Dream. Jakarta: Gunung Agung, 1973
Wardaya, Baskara T., Cold War Shadow, United States Policy Toward Indonesia, 1953-1963. Yogyakarta: Galang Press, 2007.